“Tentu.. “Ah? Bokep begitu bodohkah aku? Yah, sedih sekali, sampai menempelkan kepalaku di pahanya. Mau kemana?”
“Curhat saja, aku pingin refreshing,” sahutku sok sedih. “Nia.. “Bagaimana bisa pengertian kalau sifatnya seperti itu terus?”
“Yaahh.. entah bagian mana dari kemaluannya. bagaimana melakukannya dengan benar? “Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku..”
“Lalu? Kuangkat tubuhku, menatap kemaluanku yang mulai agak lemas. Anehnya, pengaruh obat itu mulai terasa agak ringan sekarang.Kuantar ia pulang ke rumahnya. “Ya, begitulah namanya orang pacaran, kan nggak harus senang terus..” kudengar bisikannya. duh..”
Kukenakan baju dan celanaku, melihatnya masih duduk di pojok kursi belakang tanpa pakaian dan menyilangkan tangannya di dada.




















